Tag Archives: modern

ANZ Learning Fair dengan Tema “Eco Design” bersama NIMARA Architects | 05/27/2015

ANZ + Sertifikat - 940

Traveling ke berbagai negara ternyata memberi banyak pengalaman­, misalnya saat berkunjung ke Jepang. Saat itu Nimara Architects dan teman – teman mengunjungi sebuah event tahunan yang dinamakan Art Setouchi, yakni event festival seni internasional yang diselenggarakan di gugusan pulau – pulau yang dinamakan Seto Inland Sea (Setonaikai), laut yang memisahkan Honsu dan Shikoku, 2 pulau utama di Jepang.

Pulau – pulau ini masih asri karena jauh dari pusat perkotaan. Rumah-rumah penduduk pun masih kental dengan arsitektur tradisional Jepang, walaupun banyak bangunan kontemporer Jepang yang sengaja dibangun sebagai galeri seni pada desainer Jepang.

Menurut Rabani Kusuma Putra, principle Nimara Architects – yang unik dari lingkungan tradisional ini adalah banyak transportasi modern non-emisi. Transportasi ini menggunakan bahan bakar listrik, sehingga disetiap tempat parkir disediakan area isi ulang baterai dengan cara di-charge. Pengalaman ini yang menjadi pengantar topic awal pada diskusi ANZ Learning Fair dengan tema “Eco Home”.

The Goal of Live is Living in agreement with Nature. Istilah ini juga cukup menarik, yang berarti “Tujuan sebuah Hidup adalah Kehidupan yang Selaras dengan Alam – istilah yang sering Nimara Architects lampirkan pada presentasi awal ke klien, tujuannya untuk menyamakan gagasan dan misi – visi dalam penciptaan konsep desain yang berwawasan lingkungan.

Pengalaman Nimara Architects saat di Jepang dan pemahaman konsep selaras alam itu sangat berkaitan ketika kita ingin menciptakan sebuah hunian yang “Eco Design”. Hal ini tentunya berkaitan dengan kearifan lokal, dimana pada hakekatnya kita manusia tidak bisa melawan alam – harus bisa merespon iklim maupun kondisi geografis lingkungan agar mampu bertahan hidup.

Isu pemanasan global turut memaksa kita harus tanggap dan bergerak cepat menangani bagaimana memberi solusi yang cerdas bagi perubahan iklim global yang derastis ini, salah satu caranya adalah merancang rumah pribadi dengan konsep “Eco Home”.

Bagi Nimara Architects, “Eco Design” atau “Green Design” bisa dibilang sebuah gerakan berkelanjutan yang memiliki cita-cita terhadap perancangan, pelaksanaan, dan pemakaian material yang ramah lingkungan, serta penggunaan energy dan sumber daya alam yang efektif dan efisien.

Secara sederhana “Ramah Lingkungan” bisa diartikan mampu memberi dampak positif , tidak mencemari lingkungan, dan tidak merusak pemandangan. Sedangkan “Efektif” ialah mampu memanfaatkan sumber energi alami secara maksimal. “Kita tinggal di negara tropis yang sumber cahaya maupun udara alami sangat melimpah-ruah, sehingga sayang jika energi alam ini tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meminimalisir penggunaan energi buatan / listrik,” kata Rabani Kusuma Putra. Selain itu harus “Efisien”, misalnya efisien dalam mengolah tapak / site bangunan – memperhatikan persentase luas area hijau dan bangunan, efisien waktu, energi, penggunaan material, hingga efisien dalam pengelolaan biaya.

Ujung-ujungnya bicara “Eco Design” sama halnya bicara mengenai kebiasaan hidup atau habbit. Bagi Nimara Architects, “Eco Design” juga harus diimbangi dengan “Eco Activity”. Misalnya pada pemahaman kehidupan sehari-hari, yakni setiap 30 detik pintu lemari es dibiarkan terbuka, lemari es membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk kembali pada suhu semula. Proses pengembalian ini memakan daya listrik cukup besar. Disisi lain apakah kita juga sudah memilah-milah kotak sampah untuk sampah kering / dry waste dengan sampah kotor / wet waste ?

Beragam material bangunan modern dengan teknologi “Eco Design” telah banyak dijual di pasaran, material ini dapat kita manfaatkan untuk rumah kita. Agar menjadi rumah yang “Eco Home”, dengan begitu kita juga berinvestasi jangka panjang terhadap rumah yang sehat dan energi yang hemat.

Disamping teknologi material bangunan yang modern, ada 5 hal penting bagi Nimara Architects yang patut kita pahami juga untuk investasi saat merencanakan pembangunan sebuah hunian, yakni pemanfaatan energi alami secara maksimal – cahaya & udara alami, bijak dalam pemanfaatan tanah, pengelolaan air, pemanfaatan material lokal, serta menjadi percontohan rumah yang baik terhadap lingkungan sekitar.

Permasalahan yang banyak dijumpai terutama rumah-rumah di daerah perkotaan adalah minimnya area terbuka hijau atau taman. Padahal bagi sebuah hunian, taman berperan penting sebagai ruang tumbuh-kembang anak. Anak dapat belajar dan bermain di taman, sehingga mereka akan mengenal lingkungan secara luas untuk bersosialisasi, dari pada habis waktunya untuk bermain gadget.

Bagi rumah berkonsep “Eco Home”, area taman bisa juga dimanfaatkan sebagai ruang relaksasi dan area bercocok tanam. Taman-taman ini cocok pula bagi mereka yang hendak pensiun dan akan menghabiskan bawak waktu di rumah. Taman ini dapat diolah menjadi taman kering, dengan permainan air dan material, serta pemandangan terbuka menghadap langit.

Disamping itu kita juga harus memanfaatkan site / tanah secara bijak. Rabani – Nimara Architects memberikan asusmsi dengan perbandingan 70% : 30%. Luasan 70% adalah batasan maksimum untuk luas lantai dasar bangunan, sedangan 30% adalah luas minimum untuk area hijau / taman / resapan. Dengan perbandingan yang ideal seperti ini rumah tidak hanya bijak, namun berguna ketika penataan massa / skala / fasad bangunan yang indah.

TIPS :

Membangun Roof Garden dapat Dilakukan Sendiri

Membangun roof garden tidaklah sesulit seperti dulu yang harus menyiapkan jenis media tanam yang cukup banyak. Saat ini telah tersedia drainage cell yang lebih memudahkan pemasangannya, disamping itu ketinggian minimum jenis media tamannya bisa lebih tipis mencapai 10 – 15 cm, berikut langkah-langkahnya :

  1. Waterproofing lantai dak. Waterproofing dapat dilakukan berulah hingga 2 – 3 kali guna mencegah kebocoran.
  2. Pasang lembaran drainage cell. Sistem pemasangan cukup mudah – secara interlock.
  3. Di atas drainage cell dipasang lembaran geotextile, bahannya seperti kain.
  4. Kemudian ratakan adukan tanah, pasir, dan pupuk sebagai media tanam.

Pengelolaan air hujan di sekitar rumah bisa kita terapkan dengan system “Zero Water Run Off”. yakni mengalirkan air hujan langsung meresap ke dalam tanah, sehingga menghindari genangan air yang berlebihan. Hal ini dapat kita lakukan dengan memilih jenis material paving menggunakan grass block.

Pengelolaan air limbah pun dapat dilakukan dengan hal yang sederhana, misalnya air flush yang ada di dalam tabung toilet berasal dari bekas air cuci tangan dari wastafel. Sehingga penempatan wastafel dapat di letakkan di atas tabung toilet, yang keduanya saling dihubungkan dengan pipa air. Model desain seperti ini sering Nimara Architects jumpai saat traveling ke Jepang, baik di hotel maupun di area public.

Pemanfaatan material bangunan juga memperhatikan aspek kontekstual, yakni material yang dipakai harus konteks dengan lingkungan sekitar, baik dalam kadar awetnya juga mudah didapat sehingga tidak membuang energi atau ekologis. Material juga harus ringan, sehingga tidak boros biaya struktur. Berbahan alami dan mampu di-recycle atau di-reuse. Misalnya kayu-kayu bekas dapat dipakai lagi sebagai kisi-kisi dinding partisi atau atap pada area terbuka dengan pemandangan alam, sehingga tidak hanya menimbulkan kesan estetik semata, namun juga alami dan ramah lingkungan.

TIPS:

Mendesain Sirkulasi Udara dan Cahaya Alami

  1. Agar sirkulasi udara di dalam rumah terus mengalir, manfaatkan teori “Bejana Berhubungan”. Jadi dimana ada lubang untuk udara masuk, di sudut lain harus ada lubang untuk udara mengalir ke luar. Dengan kata lain, ruangan tidak boleh hanya memiliki 1 sisi lubang / bukaan saja, karena udara tidak akan mengalir / mampet.
  2. Agar cahaya matahari dapat masuk hingga ke jantung rumah ada 2 cara, yakni membuat bukaan yang lebar secara fleksibel bisa dibuka-tutup tergantung fungsi dan terik cahaya matahari. Disamping itu massa bangunan tidak boleh terlalu gemuk, artinya jika kita memiliki tanah yang cukup besar dengan hanya membuat 1 massa bangunan yang besar, pasti akan menyebabkan ruang di tengah menjadi gelap, oleh karenannya massa bangunan harus dipecah menjadi 2. Efek positifnya, di antara / di tengah dua massa bangunan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi taman terbuka.

“Rumah yang direncanakan dengan konsep “Eco Design” atau “Eco Home” akan memberikan dampak positif, misalnya tidak bergantung dengan energi olahan, hemat listrik, memberi kenyamanan psikologis, investasi jangka panjang bagi anak – cucu dan kelestarian lingkungan, serta menaikkan nilai properti.” kata Rabani Kusuma Putra – Nimara Architects.

Advertisements